Text
Bencana Alam Dalam Perspektif Filologis dan Teologis : Kajian Tematik Manuskrip Keagamaan Wilayah Jawa Tengah
Buku ini mengetengahkan sebuah informasi yang begitu penting kaitannya dengan fenomena alam yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Informasi
"bencana alam" yang terekam dalam buku ini ternyata bukan sesuatu yang baru terjadi dan kemudian hanya dikaji secara terbatas oleh para ilmuan geologi dan geofisika semata, tetapi fenomena ini sudah menjadi fokus dari bagian pemikiran para ahli [agama] sejak zaman dahulu dengan pendekatan budaya dan teologi.
Beragam peristiwa bencana di masa lalu, seperti gempa bumi telah terekam dalam teks-teks manuskrip, baik dalam bentuk Babad, Primbon, maupun Mujarabat. Dalam konteks sejarah, manuskrip-manuskrip tersebut merupakan salah satu sumber penting di dalam membaca dan mengkaji peristiwa bencana alam. Dalam membaca sejarah, kita mungkin hanya mendapatkan satu peristiwa tetapi pelajaran dan nilai yang ada di dalamnya bisa diambil dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, selain menuliskan dan merekam suatu peristiwa bencana, masyarakat Jawa di masa lalu diasumsikan juga mencatat berbagai pola sikap, pencegahan, dan penanggulan risiko (mitigasi) atas berbagai bencana alam tersebut, serta bagaimana dimensi teologis dan etis yang hidup dalam diri mereka berpengaruh dalam merespons hal-hal tersebut.
Apa yang dihidangkan dalam buku ini, sesungguhnya memberikan sebuah perspektif lain dalam memahami sebuah bencana alam itu terjadi, misalnya, manusia Jawa membangun pandangan teologis yang mengintegrasikaan kesadaran teosentris, antroposentris, dan ekosentris. Peristiwa alam dan seluruh praktik kehidupan diletakkan dalam kerangka pemahaman ini.
Dengan demikian, merawat dan menjaga ekosistem alam merupakan bagian dari praktik teologis. Mirip dengan kesadaran tri hita karana (kebahagiaan tercipta, karena tiga penyebab: hubungan baik sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan) yang hidup di masyarakat Bali.
Menjaga dan merawat alam, secara teologis merupakan simbol mencintai Tuhan, karena alam dan seluruh isinya adalah ciptaan-Nya. Alam diletakkan sebagai subjek yang didayagunakan, bukan dieksploitasi untuk memenuhi kerasukan manusia. Jadi, mitigasi bencana di Jawa dikawinkan dengan prinsip sangkan paraning dumadi, tri hita karana, harmoni sosial budaya, slametan, dan sedekahan, menjadi arena kultural dan spiritual yang terbangun dengan baik.
Ketersediaan
Informasi Detail
- Judul Seri
-
-
- No. Panggil
-
P3 2018 46
- Penerbit
- Jakarta : Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi., 2018
- Deskripsi Fisik
-
xvii, 258 hlm.; 23 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
978-602-0821-35-1
- Klasifikasi
-
P3
- Tipe Isi
-
-
- Tipe Media
-
-
- Tipe Pembawa
-
-
- Edisi
-
Cetakan I
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
-
- Pernyataan Tanggungjawab
-
Islah Gusmian
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas
Komentar
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah