Text
Dinamika kehidupan relijius era kasunanan Surakarta
Di antara kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara yang perlu mendapat perhatian adalah Kasunanan Surakarta, sebuah kerajaan Islam di Jawa yang berkedudukan di Kota Surakarta. Kasunanan Surakarta, bersama dengan Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman, dipandang sebagai pewaris Kerajaan Mataram Islam yang hingga kini tetap mempertahankan budaya dan tradisi masa lalunya.
Keraton Surakarta didirikan oleh Sunan Paku Buwana II pada tahun 1745. Pada awalnya, keraton ini merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram secara keseluruhan. Namun, peristiwa palihan nagari yang ditandai dengan Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 menyebabkan Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta di bawah pemerintahan Sunan Paku Buwana III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi). Sejak saat itu, Keraton Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta yang menguasai sebagian wilayah bekas Kerajaan Mataram.
Kasunanan Surakarta mampu bertahan hingga kini. Keraton Surakarta telah menjadi saksi pergantian raja atau sunan yang bertakhta, mulai dari Sunan Paku Buwana III hingga Sunan Paku Buwana XIII.
Kasunanan Surakarta secara historis merupakan kerajaan Islam. Ciri-cirinya dapat dilihat dari keberadaan jabatan penghulu dan abdi dalem ngulama dalam birokrasi kerajaan, penerapan hukum yang berlandaskan ajaran Islam dalam peradilan, penggunaan gelar Sayidin Panatagama oleh sunan, serta keberadaan Masjid Agung di lingkungan keraton.
Selain itu, banyak upacara keraton yang mencerminkan tradisi Islam karena berkaitan dengan peringatan hari raya dan peristiwa keagamaan Islam. Penanggalannya didasarkan pada kalender Islam yang telah disesuaikan dengan tradisi Jawa. Upacara Garebeg Pasa, yang berkaitan dengan berakhirnya bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri, Garebeg Besar yang berkaitan dengan Hari Raya Iduladha, serta Garebeg Mulud yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. merupakan bukti kuat tradisi keislaman dalam kehidupan Kasunanan Surakarta.
Ketersediaan
Informasi Detail
- Judul Seri
-
-
- No. Panggil
-
P3 2013 103
- Penerbit
- Jakarta : Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan., 2013
- Deskripsi Fisik
-
xiv, 362 hlm.; 21 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
978-602-8766-82-1
- Klasifikasi
-
P3
- Tipe Isi
-
-
- Tipe Media
-
-
- Tipe Pembawa
-
-
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
-
- Pernyataan Tanggungjawab
-
Supariadi
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas
Komentar
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah